Selamat Jalan Bapak Pembangunan.

27 01 2008

Lagi asyik nonton tipi [lupa acara apaan] tiba-tiba ada breaking news.. dan tidak tanggung-tanggung, breaking news kali ini adalah mengenai Wafatnya mantan Presiden Republik Indonesia ke-2 yaitu H.M. Soeharto. dengan breaking news itu sebenarnya tidak membuat kaget, mengingat kesehatan Bpk. Soeharto beberapa hari yang lalu memang naik turun, dan kadang mencapai titik koma. membahas tentang sakitnya Bpk. Soeharto, dengan melihat fasilitas kesehatan yang di dapatkannya selama di rawat di RSPP, ada beberapa candaan teman yang bisa membuat geli sendiri jika mengingatnya.
“coba yah kalau Bpk. Soeharto di rawat menggunakan kartu JPS GAKIN [askeskin/pbi], pasti mokatnya sudah dari dulu-dulu, mana ada obat-obatan dan peralatan segitu canggihnya yang masuk JPS… heuheuheu…”. Terlepas dari semua itu, sebagai warga yang baik [beugh..] saya pribadi turut berbela sungkawa atas Wafatnya Bpk. HM Soeharto, mantan presiden RI ke-2, semoga amal ibadahnya diterima di sisi-Nya. Terimakasih atas apa yang telah beliau lakukan untuk membangun Indonesia, dan Maafkanlah dosa beliau atas apa yang telah beliau perbuat. Semoga arwah beliau di terima di sisi-Nya, dan tabahkanlah hati para orang yang ditinggalkannya.

Well, berikut kutipan perjalanan Hidup dan Karir [alm] Bpk. HM Soeharto yang di kutip dari berbagai sumber.

KISAH HIDUP 01: H.M. Soeharto berakar dari desa. Selama 32 tahun berkuasa, Pak Harto tidak pernah telupakan akarnya sebagai anak petani. Karenanya, ia selalu memperhatikan nasib dan kesejahteraan para petani.
Pembentukan wataknya ditempa oleh keprihatinan hidup dan pendidikan keluarga. Ia seorang negarawan dan nasionalis yang religius, memahami dan menghayati ajaran agamanya dan filosofi hidup Jawa. Ojo kagetan, ojo gumun, ojo dumeh. Jangan kagetan, jangan heran, jangan mentang-mentang, merupakan pegangan hidupnya, sehingga tetap tegak menghadapi cobaan seberat apa pun.
Suatu hari, Soeharto, bertelanjang dada, berlari sembari melompat, lantaran gembira dipanggil mbah buyutnya yang tukang jahit untuk mengepas baju baru. Soeharto kecil merasa riang sekali memakai baju itu. Namun Notosudiro, kakek dari ibunya, meminta Soeharto untuk memanggil Mas Darsono. Soeharto kembali berlari, memanggil kakak sepupunya. Darsono dalam sekejap sudah berdiri di depan Notosudiro, lantas disuruh mencoba baju yang sedang dikenakan Soeharto. Soeharto kemudian melepas baju itu, diserahkan ke Darsono. Ternyata pas. Baju itu memang untuk Darsono. Soeharto pun merasa sedih sekali. Saat itu Soeharto hanya mengenakan celana. Ia merasa mbahnya lebih sayang pada putra kakak ibunya, anak orang berada. Kenangan getir masa kecil ini dituturkan kembali oleh Pak Harto di dalam otobiografinya, Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya. Saat buku itu terbit (tahun 1988), Pak Harto sudah 21 tahun menjabat Presiden Republik Indonesia.
Ibu Sukirah, sewaktu melahirkan bayi laki-laki di rumah suaminya yang sederhana, di desa Kemusuk, Argomulyo, Godean, arah barat dari kota Yogyakarta, ditolong oleh dukun bersalin mBah Kromodiryo, adik kakeknya, mBah Kertoirono. Bayi yang lahir tanggal 8 Juni 1921 itu diberi nama Soeharto oleh ayahnya, Kertosudiro.
Soeharto, anak ketiga Kertosudiro dari Sukirah, istri yang dinikahinya setelah lama menduda. Dengan istri pertama, Kertosudiro, petugas pengatur air desa (ulu-ulu), memperoleh dua orang anak. Ia bertani hanya di sawah lungguh, tanah jabatan.
Agaknya perkawinan Kertosudiro dan Sukirah tidak bertahan lama. Mereka cerai tidak lama setelah Soeharto lahir. Ibu Sukirah yang menjanda, menikah lagi dengan Pramono, melahirkan tujuh orang anak, termasuk putra kedua, Probosutedjo. Dan ayah Soeharto juga menikah lagi, memperoleh empat anak dari istrinya yang ketiga.
Usianya belum genap empat puluh hari, tatkala bayi Soeharto dibawa ke rumah mBah Kromo, lantaran ibunya sakit, tak bisa menyusui. Mbah Kromolah yang mengajarnya berdiri dan berjalan. Bersama mBahnya, ia sering pergi ke sawah.
Kadang-kadang, mBah Kromo menggendong Soeharto kecil di punggungnya ketika mengerjakan sawah, atau ditumpangkan di atas garu. Kenangan yang tak pernah dilupakannya, memberi komando pada kerbau tatkala membajak; maju, belok kiri atau belok kanan. Ia juga suka bermain air, bermandi lumpur atau mencari belut, ikan kegemarannya sampai usia tua.
Ketika usianya semakin besar, Soeharto tinggal bersama kakeknya, mBah Atmosudiro, ayah dari ibunya. Di situ ia pernah menggembala kerbau. Suatu hari ia disuruh kakeknya menuntun kerbau dari kandang ke sawah. Dalam perjalanan, di pinggir sungai, kerbau itu terperosok, masuk parit. Soeharto tidak tahu, jalan mana yang sebaiknya dilewati. Ia pikir, kerbau itu bisa menemukan sendiri jalan untuk menyelamatkan diri, malah turun ke sungai. Soeharto mengikutinya dari belakang. Tahu-tahu sungai itu menyempit setelah melalui bagian yang dalam. Akibatnya, kerbau itu, maju susah, mundur susah. Soeharto hanya bisa menangis. Padahal pukul tujuh pagi, kerbau itu sudah harus ada di sawah. Namun tak lama kemudian orang suruhan kakeknya menemukannya. Soeharto pun lega, karena ia dan kerbaunya lolos dari perangkap.
Soeharto masuk sekolah tatkala berusia delapan tahun, tetapi sering pindah. Semula disekolahkan di Sekolah Desa (SD) Puluhan, Godean. Lalu pindah ke SD Pedes, lantaran ibunya dan suaminya, Pak Pramono pindah rumah, ke Kemusuk Kidul. Namun, Pak Kertosudiro lantas memindahkannya ke Wuryantoro. Soeharto dititipkan di rumah adik perempuannya yang menikah dengan Prawirowihardjo, seorang mantri tani. Bibi dan pamannya menerima Soeharto sebagai putra mereka yang paling tua, diperlakukan sama dengan putra-putri mereka sendiri. Soeharto disekolahkan. Ia menekuni semua pelajaran, lebih-lebih pelajaran berhitung. Karena itu ia mendapat pujian dari gurunya. Selain itu ia mendapat pendidikan agama yang cukup kuat, karena keluarga bibinya terbilang taat beragama.

Kegemaran bertani bertambah selama Soeharto menetap di Wuryantoro. Di bawah bimbingan pamannya yang mantri tani, Soeharto menjadi paham dan menekuni pertanian. Di dalam situasi yang penuh kesulitan (tahun 1920-an), Soeharto acapkali berada di tengah-tengah para petani, menanamkan benih-benih simpati kepada mereka. Pamannya sering mengajaknya meninjau ke desa-desa. Dari pamannya, ia tidak hanya memperoleh pengetahuan teoritis, melainkan juga praktik. Di tiga kebun percontohan, di desa Ngungking, Kenongo, dan Tangkil, ia diberi kesempatan untuk menggumuli sawah. Ia juga sering mengikuti acara tanya jawab antara Pak Prawirowihardjo dan para petani. (Hal seperti ini diterapkannya ketika menjadi Presiden RI dari 1967 sampai 1998).
Lepas sekolah, sore hari, Soeharto belajar mengaji di Langgar bersama teman-temannya, seringkali sampai semalam suntuk. Ia juga aktif di kepanduan Hizbul Wathan. Ia mulai mulai mengenal para pahlawan, seperti Raden Ajeng Kartini dan Pangeran Diponegoro dari sebuah koran yang sampai ke desa.

Setamat sekolah rendah empat tahun, Soeharto dimasukkan orang tuanya ke sekolah lanjutan rendah (schakel school) di Wonogiri. Ia pun pindah ke Selogiri, enam kilometer dari Wonogiri, tinggal di rumah kakak perempuannya, istri seorang pegawai pertanian. Ia disunat pada usia 14 tahun, karena orang tuanya tidak mudah mengumpulkan biaya. Namun ia merasa gembira, badannya cepat tumbuh besar, tinggi dan kekar.
Rumah tangga kakaknya retak, Soeharto terpaksa pindah rumah. Ia pindah ke Wonogiri, tinggal di rumah Pak Hardjowijono, teman ayahnya, pensiunan pegawai kereta api. Keluarga ini tidak punya anak, karenanya Soeharto suka membantu untuk pekerjaan-pekerjaan rumah. Tetapi ia tak pernah mengeluh. Pak Hardjo, pengikut setia Kiai Darjatmo, mubalig terkenal di Wonogiri waktu itu. Kiai itu pandai meramal dan mengobati orang sakit. Ia sering bersama Pak Hardjo berkunjung ke Kiai Darjatmo, diizinkan mendengar diskusi agama, terutama tentang isi Al-Quran. Lama kelamaan, Soeharto sering bersama Kiai Darjatmo, membantu membuat catatan (resep) obat-obatan tradisional. Nama obat-obatannya ganjil, ramuannya aneh, berasal dari tanaman-tanaman langka, tetapi banyak didapatkan di kampung. Ia juga menuliskan peringatan untuk mereka yang datang berobat. Tugas-tugas ini kadang-kadang dikerjakan sampai larut malam. Namun di Wonogiri, ia tidak bisa melanjutkan sekolah karena tidak punya sepatu dan celana pendek. Karena itu ia ingin kembali ke kampung asalnya, Kemusuk, melanjutkan sekolah. Ia pun pindah ke Kemusuk. Soeharto masuk sekolah Muhammadiyah di Yogya, karena di situ ia boleh mengenakan sarung, tanpa sepatu. Dari rumah ke sekolah, dan sebaliknya, ia mengayuh sepeda butut. Setamat SMP Muhammadiyah, Soeharto sebenarnya ingin melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi. Apa daya, ayah dan keluarganya yang lain tidak mampu membiayai. Kondisi ekonomi mereka sangat lemah. Ia masih mengingat pesan ayahnya waktu itu: “Nak, tak lebih dari ini yang dapat kulakukan untuk melanjutkan sekolahmu. Kamu sebaiknya mencari pekerjaan. Dan kalau sudah dapat, Insya Allah, kamu dapat melanjutkan pelajaranmu dengan uangmu sendiri.”
Soeharto pun berusaha mencari kerja ke sana-kemari, tidak berhasil. Ia memutuskan kembali ke rumah bibinya di Wuryantoro. Di sana ia diterima sebagai pembantu klerek pada sebuah Bank Desa (Volks-bank). Tugasnya mengikuti klerek bank berkeliling kampung dengan sepeda, mengenakan pakaian Jawa lengkap, kain blangkon dan baju beskap. Mereka menampung permohonan pinjaman para petani, pedagang kecil dan pemilik warung. Karena kainnya sudah usang, tak patut lagi dipakai, ia meminjam kain bibinya. Namun ia bernasib sial. Sewaktu turun dari sepedanya yang reot, kainnya tersangkut per sadel, sobek. Meskipun tak bersalah, ia dicela oleh klereknya. Bibinya juga memarahinya. Tak lama kemudian Soeharto minta berhenti. Setelah lama menganggur, suatu hari tahun 1942, Soeharto membaca pengumuman penerimaan anggota KNIL—Tentara Kerajaan Belanda. Ia pun mendaftarkan diri, lulus dan diterima, tetapi hanya sempat bertugas tujuh hari dengan pangkat sersan. Soalnya terjadi perubahan, Belanda menyerah kepada Jepang. Sersan Soeharto kemudian pulang ke desa Kemusuk. Namun karir militernya dimulai dari sini.

Suatu hari datang keluarga Pak Prawiro yang tinggal di Wuryantoro ke daerah dekat tempat tugas Letkol Soeharto di Yogya. Ia pun menemui mereka. Bibinya, Ibu Prawiro, bertanya soal masa depannya, karena sudah berusia 26 tahun.
Mula-mula Soeharto tidak menganggap serius soal ini. Ia jelaskan perjuangan belum selesai. Waktu itu Letkol Soeharto memimpin Resimen III yang bermarkas di dekat Yogya. Ibu Prawiro tidak mau tahu, karena menurutnya perkawinan tidak perlu terhalang oleh perjuangan. Membentuk keluarga sangat penting.
“Tetapi siapa pasangan saya?” tanya Soeharto kepada mereka.
“Percayakan soal itu kepada kami,” kata Bu Prawiro. “Kamu masih ingat kepada Siti Hartinah, teman sekelas adikmu, Sulardi, waktu di Wonogiri?” tanya Ibu Prawiro. Soeharto mengangguk, mengiyakan. Ia ingat.
“Apa dia akan mau? Apa orang tuanya akan memberikan? Mereka orang ningrat. Ayahnya, Wedana, pegawai Mangkunegaran.” Tanya Soeharto.
Bu Prawiro seperti tidak menganggap hal itu sebagai persoalan. “Saya kenal dengan orang yang dekat dengan mereka,” kata Bu Prawiro. “Saya akan minta dia menanyakan, apa mereka dapat menerima kedatanganku. Saya tahu cara-caranya. Saya tahu adat kebiasaan di situ,” katanya.
Soeharto tidak mau mengecewakan bibinya. Hatinya tergugah. Temyata Pak Soemoharyomo dan Ibu Hatmanti berkenan menerima mereka, setelah Ibu Prawiro mengutus orang dekatnya. Kemudian dilangsungkan upacara nontoni, pertemuan antara si pelamar dan yang dilamar. Soeharto masih ragu-ragu, apakah Hartinah benar-benar suka padanya. Ternyata upacara nontoni berjalan lancar, langsung merundingkan waktu pernikahan. “Ini rupanya jodoh saya,” pikir Soeharto.
Perkawinan Letkol Soeharto dan Siti Hartinah dilangsungkan tanggal 26 Desember 1947 di Solo. Waktu itu usia Soeharto 26 tahun dan Hartinah 24 tahun. Mereka dikaruniai enam putra dan putri; Siti Hardiyanti Hastuti, Sigit Harjojudanto, Bambang Trihatmodjo, Siti Hediati Herijadi, Hutomo Mandala Putra dan Siti Hutami Endang Adiningsih.
Jenderal Besar H.M. Soeharto telah menapaki perjalanan panjang di dalam karir militer dan politiknya. Di kemiliteran, Pak Harto memulainya dari pangkat sersan tentara KNIL, kemudian komandan PETA, komandan resimen dengan pangkat Mayor dan komandan batalyon berpangkat Letnan Kolonel.
Lama pangkatnya tertahan, sampai-sampai ia meminta izin Ibu Tien untuk berhenti dari tentara dan menjadi sopir taksi saja. Namun Ibu Tien tidak memberi izin. Lantas Pak Harto diangkat menjadi Kepala Staf, kemudian Panglima Kodam Diponegoro, Jawa Tengah, dengan pangkat Mayor Jenderal. Pak Harto, setelah menempuh pendidikan Seskoad di Bandung, ditunjuk sebagai Panglima Komando Mandala, Wakil Panglima I Kolaga dan kemudian Pangkostrad dengan pangkat Letnan Jenderal.

Suharto lahir di Kemusuk, Argomulyo, Yogyakarta. Dia bergabung dengan pasukan kolonial Belanda, KNIL. Selama Perang Dunia II, dia menjadi komandan peleton, kemudian kompi di dalam militer yang disponsori oleh Jepang yang dikenal sebagai tentara PETA (Pembela Tanah Air).

Setelah Proklamasi Kemerdekaan oleh Soekarno pada 1945, pasukannya bentrok dengan Belanda yang sedang berupaya mendirikan kembali kolonialisme di Indonesia. Soeharto dikenal luas dalam militer dengan serangan tiba-tibanya yang menguasai Yogyakarta pada 1 Maret 1949 (lihat Serangan Umum 1 Maret) hanya dalam waktu enam jam. Namun gerakan ini cenderung ditafsirkan sebagai simbol perjuangan rakyat Indonesia terhadap pasukan Belanda. Penggagas sebenarnya serangan ini adalah Sri Sultan Hamengkubuwono IX, sebagai raja Yogyakarta, Gubernur Militer serta Menteri Pertahanan.

Di tahun berikutnya dia bekerja sebagai pejabat militer di Divisi Diponegoro Jawa Tengah. Pada 1959 dia terlibat kasus penyelundupan dan kasusnya hampir dibawa ke pengadilan militer oleh Kolonel Ahmad Yani[rujukan?]. Namun atas saran Jendral Gatot Subroto saat itu, dia dibebaskan dan dipindahkan ke Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (SESKOAD) di Bandung, Jawa Barat . Sebelumnya Letkol Soeharto menjadi komandan penumpasan pemberontakan di Makassar, di bawah komando Kolonel Alex Kawilarang .

Pada 1961 dia mencapai pangkat brigadir jendral dan memimpin Komando Mandala yang bertugas merebut Irian Barat. Sekembalinya dari Indonesia Timur, Soeharto yang telah naik pangkat menjadi mayor jenderal, ditarik ke markas besar ABRI oleh Jenderal A.H. Nasution. Di pertengahan tahun 1962, Soeharto diangkat sebagai Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) hingga 1965.

Pada 1965, Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, khususnya Angkatan Darat mengalami konflik internal, terutama akibat politik Nasakom yang dilancarkan Sukarno pada saat itu, sehingga pecah menjadi dua faksi, sayap kiri dan sayap kanan. Soeharto berada di pihak sayap kanan. Hal terpenting yang diperoleh Soeharto dari operasi militer ini adalah perkenalannya dengan Kol. Laut Sudomo, Mayor Ali Murtopo, Kapten Benny Murdani yang kemudian tercatat sebagai orang-orang terpenting dan strategis di tubuh pemerintahannya kelak.

Naik Ke Kekuasaan.

Pada pagi hari 1 Oktober 1965, beberapa pasukan pengawal Kepresidenan, Tjakrabirawa di bawah Letnan Kolonel Untung Syamsuri bersama pasukan lain menculik dan membunuh enam orang jendral. Pada peristiwa itu Jendral A.H. Nasution yang menjabat sebagai Menteri Koordinator bidang Hankam dan Kepala Staf Angkatan Bersenjata berhasil lolos. Satu yang terselamatkan, yang tidak menjadi target dari percobaan kudeta adalah Mayor Jendral Soeharto, meski menjadi sebuah pertanyaan apakah Soeharto ini terlibat atau tidak dalam peristiwa yang dikenal sebagai G-30-S itu. Beberapa sumber mengatakan, Pasukan Tjakrabirawa yang terlibat itu menyatakan bahwa mereka mencoba menghentikan kudeta militer yang didukung oleh CIA yang direncanakan untuk menyingkirkan Presiden Soekarno dari kekuasaan pada “Hari ABRI”, 5 Oktober 1965 oleh badan militer yang lebih dikenal sebagai Dewan Jenderal.

Peristiwa ini segera ditanggapi oleh Mayjen Soeharto untuk segera mengamankan Jakarta, menurut versi resmi sejarah pada masa Orde Baru, terutama setelah mendapatkan kabar bahwa Letjen Ahmad Yani, Menteri / Panglima Angkatan Darat tidak diketahui keberadaannya. Hal ini sebenarnya berdasarkan kebiasaan yang berlaku di Angkatan Darat bahwa bila Panglima Angkatan Darat berhalangan hadir, maka Panglima Kostrad yang menjalankan tugasnya. Tindakan ini diperkuat dengan turunnya Surat Perintah yang dikenal sebagai Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) dari Presiden Soekarno yang memberikan kewenangan dan mandat kepada Soeharto untuk mengambil segala tindakan untuk memulihkan keamanan dan ketertiban. Langkah yang diambil Soeharto adalah segera membubarkan Partai Komunis Indonesia (PKI) sekalipun sempat ditentang Presiden Soekarno, penangkapan sejumlah menteri yang diduga terlibat G-30-S (Gerakan 30 September). Tindakan ini menurut pengamat internasional dikatakan sebagai langkah menyingkirkan Angkatan Bersenjata Indonesia yang pro-Soekarno dan pro-Komunis yang justru dialamatkan kepada Angkatan Udara Republik Indonesia di mana jajaran pimpinannya khususnya Panglima Angkatan Udara Laksamana Udara Omar Dhani yang dinilai pro Soekarno dan Komunis, dan akhirnya memaksa Soekarno untuk menyerahkan kekuasaan eksekutif. Tindakan pembersihan dari unsur-unsur komunis (PKI) membawa tindakan penghukuman mati anggota Partai Komunis di Indonesia yang menyebabkan pembunuhan sistematis sekitar 500 ribu “tersangka komunis”, kebanyakan warga sipil, dan kekerasan terhadap minoritas Tionghoa Indonesia. Soeharto dikatakan menerima dukungan CIA dalam penumpasan komunis. Diplomat Amerika 25 tahun kemudian mengungkapkan bahwa mereka telah menulis daftar “operasi komunis” Indonesia dan telah menyerahkan sebanyak 5.000 nama kepada militer Indonesia. Been Huang, bekas anggota kedutaan politik AS di Jakarta mengatakan di 1990 bahwa: “Itu merupakan suatu pertolongan besar bagi Angkatan Bersenjata. Mereka mungkin membunuh banyak orang, dan saya kemungkinan memiliki banyak darah di tangan saya, tetapi tidak seburuk itu. Ada saatnya di mana anda harus memukul keras pada saat yang tepat.” Howard Fenderspiel, ahli Indonesia di State Department’s Bureau of Intelligence and Research di 1965: “Tidak ada yang peduli, selama mereka adalah komunis, bahwa mereka dibantai. Tidak ada yang bekerja tentangnya.”1 Dia mengakhiri konfrontasi dengan Malaysia dalam rangka membebaskan sumber daya di militer.

Jendral Soeharto akhirnya menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia setelah pertanggungjawaban Presiden Soekarno (NAWAKSARA) ditolak MPRS pada tahun 1967, kemudian mendirikan apa yang disebut Orde Baru.

Beberapa pengamat politik baik dalam negeri maupun luar negeri mengatakan bahwa Soeharto membersihkan parlemen dari komunis, menyingkirkan serikat buruh dan meningkatkan sensor. Dia juga memutuskan hubungan diplomatik dengan Republik Rakyat Tiongkok dan menjalin hubungan dengan negara barat dan PBB. Dia menjadi penentu dalam semua keputusan politik.

Jendral Soeharto dikatakan meningkatkan dana militer dan mendirikan dua badan intelijen – Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib) dan Badan Koordinasi Intelijen Nasional (Bakin). Sekitar 2 juta orang dieksekusi dalam pembersihan massal dan lebih dari 200.000 ditangkap hanya karena dicurigai terlibat dalam kudeta. Banyak komunis, tersangka komunis dan yang disebut “musuh negara” dihukum mati (meskipun beberapa hukuman ditunda sampai 1990).

Diduga bahwa daftar tersangka komunis diberikan ke tangan Soeharto oleh CIA. Sebagai tambahan, CIA melacak nama dalam daftar ini ketika rezim Soeharto mulai mencari mereka. Dukungan yang tidak dibicarakan ini dari Pemerintah Amerika Serikat untuk rezim Soeharto tetap diam sampai invasi Timor Timur, dan terus berlangsung sampai akhir 1990-an. Karena kekayaan sumber daya alamnya dan populasi konsumen yang besar, Indonesia dihargai sebagai rekan dagang Amerika Serikat dan begitu juga pengiriman senjata tetapi dipertahankan ke rezim Soeharto. Ketika Soeharto mengumjungi Washington pada 1995 pejabat administratif Clinton dikutip di New York Times mengatakan bahwa Soeharto adalah “orang seperti kita” atau “orang golongan kita”.

Pada 12 Maret 1967 Soeharto diangkat sebagai Pejabat Presiden Indonesia oleh MPR Sementara. Setahun kemudian, pada 27 Maret 1968 dia resmi diangkat sebagai Presiden untuk masa jabatan lima tahun yang pertama. Dia secara langsung menunjuk 20% anggota MPR. Partai Golkar menjadi partai favorit dan satu-satunya yang diterima oleh pejabat pemerintah. Indonesia juga menjadi salah satu pendiri ASEAN.

Ekonomi Indonesia benar-benar amburadul di pertengahan 1960-an. Soeharto pun kemudian meminta nasehat dari tim ekonom hasil didikan Barat yang banyak dikenal sebagai “mafia Berkeley“. Tujuan jangka pendek pemerintahan baru ini adalah mengendalikan inflasi, menstabilkan nilai rupiah, memperoleh hutang luar negeri, serta mendorong masuknya investasi asing. Dan untuk satu hal ini, kesuksesan mereka tidak bisa dipungkiri. Peran Sudjono Humardani sebagai asisten finansial besar artinya dalam pencapaian ini.

Di bidang sosial politik, Soeharto menyerahkannya kepada Ali Murtopo sebagai asisten untuk masalah-masalah politik. Menghilangkan oposisi dengan melemahkan kekuatan partai politik dilakukan melalui fusi dalam sistem kepartaian.

Meredam Oposisi.

Soeharto membangun dan memperluas konsep “Jalan Tengah”-nya Jenderal Nasution menjadi konsep dwifungsi untuk memperoleh dukungan basis teoritis bagi militer untuk memperluas pengaruhnya melalui pejabat-pejabat pemerintahan, termasuk cadangan alokasi kursi di parlemen dan pos-pos utama dalam birokrasi sipil. Peran dwifungsi ini adalah peran militer di bidang politik yang permanen.

Sepak terjang Ali Murtopo dengan badan inteligennya mulai mengancam Soeharto. Persaingan antara Ali Moertopo dan Sumitro dipergunakan untuk menyingkirkan Ali. Namun Sumitro pun segera ditarik dari jabatannya dan kendali Kopkamtib dipegang langsung oleh Soeharto karena dianggap potensial mengancam. Beberapa bulan setelah peristiwa Malari sebanyak 12 surat kabar ditutup dan ratusan rakyat Indonesia termasuk mahasiswa ditangkap dan dipenjarakan.

Pada 1978 untuk mengeliminir gerakan mahasiswa maka segera diberlakukannya NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan). Kebijakan ini ditentang keras oleh banyak organisasi mahasiswa. Hubungan kegiatan mahasiswa dengan pihak kampus hanyalah kepada mereka yang diperbolehkan pemerintah lewat mekanisme kontrol dekanat dan rektorat.

Mulut pers pun dibungkam dengan lahirnya UU Pokok Pers No. 12 tahun 1982. UU ini mengisyaratkan adanya restriksi atau peringatan mengenai isi pemberitaan ataupun siaran. Organisasi massa yang terbentuk harus memperoleh izin pemerintah dengan hanya satu organisasi profesi buatan pemerintah yang diperbolehkan berdiri. Sehingga organisasi massa tak lebih dari wayang-wayang Orde Baru.

Kemudian pada tahun 1979-1980 muncul sekelompok purnawirawan perwira tinggi angkatan bersenjata dan tokoh-tokoh sipil yang dikenal kritis, yang tergabung dalam Petisi 50, mengeluarkan serial selebaran yang mengeluhkan sikap politik pemerintah Orde Baru yang menjadikan Angkatan Darat sebagai pendukung kemenangan Golkar, serta menuntut adanya reformasi politik. Sebagai balasannya, pemerintah mencekal mereka. Kelompok ini pun gagal serta tak pernah mampu tampil lagi sebagai kelompok oposisi yang efektif terhadap pemerintahan Orde Baru.

Puncak Orde Baru.

Pada masa pemerintahannya, Presiden Soeharto menetapkan pertumbuhan ekonomi sebagai pokok tugas dan tujuan pemerintah. Dia mengangkat banyak teknokrat dan ahli ekonomi yang sebelumnya bertentangan dengan Presiden Soekarno yang cenderung bersifat sosialis. Teknokrat-teknokrat yang umumnya berpendidikan barat dan liberal (Amerika Serikat) diangkat adalah lulusan Berkeley sehingga mereka lebih dikenal di dalam klik ekonomi sebagai Mafia Berkeley di kalangan Ekonomi, Industri dan Keuangan Indonesia. Pada masanya, Indonesia mendapatkan bantuan ekonomi dan keuangan dari negara-negara donor (negara-negara maju) yang tergabung dalan IGGI yang diseponsori oleh pemerintah Belanda. Namun pada tahun 1992, IGGI dihentikan oleh pemerintah Indonesia karena dianggap turut campur dalam urusan dalam negeri Indonesia, khususnya dalam kasus Timor Timur pasca Insiden Dili. Peran IGGI ini digantikan oleh lembaga donor CGI yang disponsori Perancis. Selain itu, Indonesia mendapat bantuan dari lembaga internasional lainnya yang berada dibawah PBB seperti UNICEF, UNESCO dan WHO. Namun sayangnya, kegagalan manajemen ekonomi yang bertumpu dalam sistem trickle down effect (menetes ke bawah) yang mementingkan pertumbuhan dan pengelolaan ekonomi pada segelintir kalangan serta buruknya manajemen ekonomi perdagangan industri dan keuangan (EKUIN) pemerintah, membuat Indonesia akhirnya bergantung pada donor Internasional terutama paska Krisis 1997. Dalam bidang ekonomi juga, tercatat Indonesia mengalami swasembada beras pada tahun 1984. Namun prestasi itu ternyata tidak dapat dipertahankan pada tahun-tahun berikutnya. Kemudian kemajuan ekonomi Indonesia saat itu dianggap sangat signifikan sehingga Indonesia sempat dimasukkan dalam negara yang mendekati negara-negara Industri Baru bersama dengan Malaysia, Filipina dan Thailand, selain Singapura, Taiwan dan Korea Selatan.

Di bidang politik, Presiden Soeharto melakukan penyatuan partai-partai politik sehingga pada masa itu dikenal tiga partai politik yakni Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Golongan Karya (Golkar) dan Partai Demokrasi Indonesia (PDI) dalam upayanya menyederhanakan kehidupan berpolitik di Indonesia sebagai akibat dari politik masa presiden Soekarno yang menggunakan sistem multipartai yang berakibat pada jatuh bangunnya kabinet dan dianggap penyebab mandeknya pembangunan. Kemudian dikeluarkannnya UU Politik dan Asas tunggal Pancasila yang mewarnai kehidupan politik saat itu. Namun dalam perjalanannya, terjadi ketimpangan dalam kehidupan politik di mana muncullah istilah “mayoritas tunggal” di mana GOLKAR dijadikan partai utama dan mengebirikan dua parpol lainnya dalam setiap penyelenggaraan PEMILU. Berbagai ketidakpuasan muncul, namun dapat diredam oleh sistem pada masa itu.

Seiring dengan naiknya taraf pendidikan pada masa pemerintahannya karena pertumbuhan ekonomi, muncullah berbagai kritik dan ketidakpuasan atas ketimpangan ketimpangan dalam pembangunan. Kesenjangan ekonomi, sosial dan politik memunculkan kalangan yang tidak puas dan menuntut perbaikan. Kemudian pada masa pemerintahannya, tercatat muncul peristiwa kekerasan di masyarakat yang umumnya sarat kepentingan politik, selain memang karena ketidakpuasan dari masyarakat.

Beberapa catatan atas tindakan represif Orde Baru.

Presiden Soeharto dinilai memulai penekanan terhadap suku Tionghoa, melarang penggunaan tulisan Tionghoa tertulis di berbagai material tertulis, dan menutup organisasi Tionghoa karena tuduhan simpati mereka terhadap komunis.

Pada 1970 Soeharto melarang protes pelajar setelah demonstrasi yang meluas melawan korupsi. Sebuah komisi menemukan bahwa korupsi sangat umum. Soeharto menyetujui hanya dua kasus dan kemudian menutup komisi tersebut. Korupsi kemudian menjadi sebuah endemik.

Dia memerintah melalui kontrol militer dan penyensoran media. Dia menguasai finansial dengan memberikan transaksi mudah dan monopoli kepada saudara-saudaranya, termasuk enam anaknya. Dia juga terus memainkan faksi berlainan di militer melawan satu sama lain, dimulai dengan mendukung kelompok nasionalis dan kemudian mendukung unsur Islam.

Pada 1973 dia memenangkan jangka lima-tahun berikutnya melalui pemilihan “electoral college“. dan juga terpilih kembali pada 1978, 1983, 1988, 1993, dan 1998. Soeharto mengubah UU Pemilu dengan mengizinkan hanya tiga partai yang boleh mengikuti pemilihan, termasuk partainya sendiri, Golkar. Oleh karena itu semua partai Islam yang ada diharuskan bergabung menjadi Partai Persatuan Pembangunan, sementara partai-partai non-Islam (Katolik dan Protestan) serta partai-partai nasionalis digabungkan menjadi Partai Demokrasi Indonesia.

Pada 1975, dengan persetujuan bahkan permintaan Amerika Serikat dan Australia, ia memerintahkan pasukan Indonesia untuk memasuki bekas koloni Portugal Timor Timur setelah Portugal mundur dan gerakan Fretilin memegang kuasa yang menimbulkan kekacauan di masyarakat Timor Timur Sendiri, serta kekhawatiran Amerika Serikat atas tidakan Fretilin yang menurutnya mengundang campur tangan Uni Soviet. Kemudian pemerintahan pro integrasi dipasang oleh Indonesia meminta wilayah tersebut berintegrasi dengan Indonesia. Pada 15 Juli 1976 Timor Timur menjadi provinsi Timor Timur sampai wilayah tersebut dialihkan ke administrasi PBB pada 1999. Korupsi menjadi beban berat pada 1980-an. Pada 5 Mei 1980 sebuah kelompok yang kemudian lebih dikenal dengan nama Petisi 50 menuntut kebebasan politik yang lebih besar. Kelompok ini terdiri dari anggota militer, politisi, akademik, dan mahasiswa. Media Indonesia menekan beritanya dan pemerintah mecekal penandatangannya. Setelah pada 1984 kelompok ini menuduh bahwa Soeharto menciptakan negara satu partai, beberapa pemimpinnya dipenjarakan.

Catatan hak asasi manusia Soeharto juga semakin memburuk dari tahun ke tahun. Pada 1993 Komisi HAM PBB membuat resolusi yang mengungkapkan keprihatinan yang mendalam terhadap pelanggaran hak-hak asasi manusia di Indonesia dan di Timor Timur. Presiden AS Bill Clinton mendukungnya.

Pada 1996 Soeharto berusaha menyingkirkan Megawati Soekarnoputri dari kepemimpinan Partai Demokrasi Indonesia (PDI), salah satu dari tiga partai resmi. Di bulan Juni, pendukung Megawati menduduki markas besar partai tersebut. Setelah pasukan keamanan menahan mereka, kerusuhan pecah di Jakarta pada tanggal 27 Juli 1996 (peristiwa Sabtu Kelabu) yang dikenal sebagai “Peristiwa Kudatuli” (Kerusuhan Dua Tujuh Juli).

Soeharto Turun Tahta.

Pada 1997, menurut Bank Dunia, 20 sampai 30% dari dana pengembangan Indonesia telah disalahgunakan selama bertahun-tahun. Krisis finansial Asia di tahun yang sama tidak membawa hal bagus bagi pemerintahan Presiden Soeharto ketika ia dipaksa untuk meminta pinjaman, yang juga berarti pemeriksaan menyeluruh dan mendetail dari IMF.

Mekipun sempat menyatakan untuk tidak dicalonkan kembali sebagai Presiden pada periode 1998-2003, terutama pada acara Golongan Karya, Soeharto tetap memastikan ia terpilih kembali oleh parlemen untuk ketujuh kalinya di Maret 1998. Setelah beberapa demonstrasi, kerusuhan, tekanan politik dan militer, serta berpuncak pada pendudukan gedung DPR/MPR RI, Presiden Soeharto mengundurkan diri pada 21 Mei 1998 untuk menghindari perpecahan dan meletusnya ketidakstabilan di Indonesia. Pemerintahan dilanjutkan oleh Wakil Presiden Republik Indonesia, B.J. Habibie.

Dalam pemerintahannya yang berlangsung selama 32 tahun lamanya, telah terjadi penyalahgunaan kekuasaan termasuk korupsi dan pelanggaran HAM. Hal ini merupakan salah satu faktor berakhirnya era Soeharto.

Peninggalan.

Bidang Politik.

Sebagai presiden Indonesia selama lebih dari 30 tahun, Soeharto telah banyak mempengaruhi sejarah Indonesia. Dengan pengambil alihan kekuasaan dari Soekarno, Soeharto dengan dukungan dari Amerika Serikat memberantas paham komunisme dan melarang pembentukan partai komunis. Dijadikannya Timor Timur sebagai provinsi ke-27 (saat itu) juga dilakukannya karena kekhawatirannya bahwa partai Fretilin (Frente Revolucinaria De Timor Leste Independente /partai yang berhaluan sosialis-komunis) akan berkuasa di sana bila dibiarkan merdeka. Hal ini telah mengakibatkan menelan ratusan ribu korban jiwa sipil.

Bidang Kesehatan.
Untuk mengendalikan jumlah penduduk Indonesia, Soeharto memulai kampanye Keluarga Berencana yang menganjurkan setiap pasangan untuk memiliki secukupnya 2 anak. Hal ini dilakukan untuk menghindari ledakan penduduk yang nantinya dapat mengakibatkan berbagai masalah, mulai dari kelaparan, penyakit sampai kerusakan lingkungan hidup.

Bidang Pendidikan.
Dalam bidang pendidikan Soeharto mempelopori proyek Wajib Belajar yang bertujuan meningkatkan rata-rata taraf tamatan sekolah anak Indonesia. Pada awalnya, proyek ini membebaskan murid pendidikan dasar dari uang sekolah (Sumbangan Pembiayaan Pendidikan) sehingga anak-anak dari keluarga miskin juga dapat bersekolah. Hal ini kemudian dikembangkan menjadi Wajib Belajar 9 tahun.

Wafatnya Soeharto.

Presiden RI Kedua HM Soeharto wafat pada pukul 13.10 WIB Minggu, 27 Januari 2008. Jenderal Besar yang oleh MPR dianugerahi penghormatan sebagai Bapak Pembangunan Nasional, itu meninggal dalam usia 87 tahun setelah dirawat selama 24 hari (sejak 4 sampai 27 Januari 2008) di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP), Jakarta.Berita wafatnya Pak Harto pertama kali diinformasikan Kapolsek Kebayoran Baru, Kompol. Dicky Sonandi, di Jakarta, Minggu (27/1). Kemudian secara resmi Tim Dokter Kepresidenan menyampaikan siaran pers tentang wafatnya Pak Harto tepat pukul 13.10 WIB Minggu, 27 Januari 2008 di RSPP Jakarta akibat kegagalan multi organ.Kemudian sekira pukul 14.40, jenazah mantan Presiden Soeharto diberangkatkan dari RSPP menuju kediaman di Jalan Cendana nomor 8, Menteng, Jakarta. Ambulan yang mengusung jenazah Pak Harto diiringi sejumlah kendaraan keluarga dan kerabat serta pengawal. Sejumlah wartawan merangsek mendekat ketika iring-iringan kendaraan itu bergerak menuju Jalan Cendana, mengakibatkan seorang wartawati televisi tertabrak. Di sepanjang jalan Tanjung dan Jalan Cendana ribuan masyarakat menyambut kedatangan iringan kendaraan yang membawa jenazah Pak Harto. Isak tangis warga pecah begitu rangkaian kendaraan yang membawa jenazah mantan Presiden Soeharto memasuki Jalan Cendana, sekira pukul 14.55, Minggu (27/1). Sementara itu, Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono didampingi Wakil Presiden Jusuf Kalla dan sejumlah menteri yang tengah mengikuti rapat kabinet terbatas tentang ketahanan pangan, menyempatkan mengadakan jumpa pers selama 3 menit dan 28 detik di Kantor Presiden, Jakarta, Minggu (27/1). Presiden menyampaikan belasungkawa yang mendalam atas wafatnya mantan Presiden RI Kedua Haji Muhammad Soeharto. “Hari ini, kita semua berduka dengan wafatnya Bapak Haji Muhammad Soeharto, Presiden RI kedua karena sakit,” kata Presiden SBY. Presiden atas nama negara, rakyat, pemerintah dan pribadi mengucapkan belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas wafatnya Soeharto.

Presiden mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk mendoakan almarhum agar diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT sesuai pengabdian, jasa, amal baiknya, baik kepada masyarakat, bangsa, negara, dan dalam kehidupan umat manusia. Presiden juga mengajak rakyat mendoakan agar keluarga Pak Harto yang ditinggalkan tabah dan tawakal menghadapi cobaan yang maha besar. “Terus lihat ke depan untuk menyongsong hari esok yang lebih baik,” ujarnya.

“Penghormatan setinggi-tingginya layak diberikan kepada Pak Harto sebagai satu dari putra terbaik bangsa yang amat besar jasanya kepada bangsa dan Negara,” ujar Presiden. Jumpa per situ diakhiri oleh Presiden dengan mengajak semua peserta jumpa pers yang beragama Islam mengucapkan Alfatihah.

Astana Giribangun Menurut informasi yang diperoleh Tokoh Indonesia dari keluarga di Cendana, direncanakan jenazah mantan Presiden Soeharto akan diberangkatkan dari rumah duka di Jalan Cendana, Senin (28/1), pukul 09.00 WIB menuju Bandara Halim Perdanakusumah. Selanjutnya, jenazah akan diterbangkan dari Bandara Halim Perdanakusumah ke Solo pukul 10.00 WIB. Untuk kemudian dimakamkan di Astana Giribangun, Solo, Senin (28/1). Prosesi pemberangkatan jenazah akan dilakukan dengan penghormatan khusus sebagai mantan pejabat negara. namun, belum dipastikan di mana prosesi penghormatan akan dilakukan. Ketua DPR Agung Laksono akan memimpin upacara pelepasan dari Jalan Cendana No.8 Jakarta Pusat. Kemudian, menurut informasi dari Istana Wapres, Wapres Jusuf Kalla akan melepas jenasah diberangkatkan dengan pesawat dari Lanud Halim Perdana Kusuma menuju Solo. Kemudian, Presiden SBY akan menerima jenazahnya di Solo, sekaligus memimpin upacara pemakaman di Astana Giribangun, Karanganyar, Senin (28/1). Pak Harto akan dimakamkan di sisi makam istrinya, Alm. Ibu Tien Soeharto. Berkaitan dengan itu, seluruh jadual kepresidenan hari ini dan esok dibatalkan. Termasuk membatalkan agenda Presiden ke Bali yang seharusnya menghadiri acara Konferensi tentang Korupsi se-Dunia.

Sebelumnya, Minggu Sore pukul 16.00 WIB, Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, lebih dulu melawat ke Cendana.


Aksi

Information

6 responses

28 01 2008
mhimenk

yaa…mau gimana lagi klo sudah saatnya pasti kita akan menghadapNya.
semoga selamat sampe tujuan.
tinggal tunggu warisan aja deh..he…he…he…

mhimenk:
ngapain loe singgung2 gender,emangnya klo cewek gak bisa punya blog, trus emang cewek gak boleh maniest?
Fritzs;
tu khan cewek emang sensitif
mhimenk:
emang napa?emang situ ok?
fritzs:
weleh…weleh…mhimenk horor juga ya
mhimenk;
biarin yang penting maniesst
fritzs:
dubrak!!
mhimenk;
sorry lagi dapet ha…ha…ha..

best regards,
mhimenk

28 01 2008
fritzinfo

^
*gubrakz*
sadis euy.. you rock girls… :D
edede.. baru ji ku perhatikan.. anak makassara ji to..?

29 01 2008
mhimenk

thanks deh pujiannya aku aku tu rocks..
ngomong2 soal ntan, meneketehe..he..he…he….
makassar tu luas fritzzz…n isinya bukan mhimenk aja ma ntan jadi maaf gak bisa bantu, ntar biar angin aja yang sampein…cie..puitis toh??he..he..he

29 01 2008
fritz

^
oooo…. soalnya khan sama-sama blogger.. dan makassara udah ada komunitas blogger. sapa tau ji pernah gathering sama-sama… jadi sa kira kita tau ji si ntan..

iyah dah.. :)

26 05 2008
toto

Asssalamualai’kum…
Dengan semangat 100 tahun kebangkitan bangsa, mudah-mudahan puisi yang dibawakan oleh Dedy Mizwar yang sering ditayangkan di media televisi nasional berikut menjadi kado terindah untuk kita bersama dan memberi semangat kepada kita untuk terus membangun bangsa menuju Indonesia jaya.

Indonesia Bangkit

Bangkit itu susah…
Susah melihat orang lain susah
Senang melihat orang lain senang

Bangkit itu takut…
Takut korupsi
Takut mengambil yang bukan haknya

Bangkit itu marah…
Marah bila martabat bangsa dilecehkan

Bangkit itu malu…
Malu menjadi benalu
malu karena minta melulu

Bangkit itu mencuri…
Mencuri perhatian dunia dengan prestasi

Bangkit itu tidak ada…
Tidak ada kata menyerah
Tidak ada kata putus asa

Bangkit itu aku…
Untuk Indonesiaku.

Salam Indonesia

27 05 2008
fritzinfo

^
terimakasih sudah mengingatkan kembali :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: