[Cerpen] Batas Hidup [bagian 2]

2 08 2008

Sambungan dari cerpen sebelumnya...

Oh, iyah.. aku sadar bahwa aku merupakan mahluk Tuhan paling seksi, walaupun anggapan itu merupakan bagian yang kontradiksi dengan kondisiku saat ini, tetapi di saat aku mencermati kondisi tersebut selalu saja ada pekikan yang keras dan menyatakan bahwa iyahh.. benar.. kamu adalah yang terseksi, terbaik dari segala senyawa yang pernah ada, jangan dengarkan apa kata mereka tentang dirimu dengan memutarbalikan dan mempermainkan kondisi-kondisi yang kamu hadapi.. percayalah, dari sini kami melihatmu bahwa kamulah yang terseksi dan terbaik, tutup telingamu jika mereka mengucapkan kalimat dan ajakan untuk membuka pintu dan berjalan ke arah meraka dan jika mereka menarik tanganmu, tarik kembali dengan keras dan kami akan membantumu. Lihatlah ke arah kami, disini banyak kenikmatan yang tidak pernah akan kamu dapatkan di tempat mereka jika kamu membuka pintu yang disediakan oleh mereka. Mereka hanya berbicara dengan bahasa yang kamu tidak mengerti demi mengajakmu masuk di lingkungan mereka, tetapi bersama kami, kamu akan selalu mendengarkan ajakan yang membuat tubuhmu bergejolak dan kamu akan merasakan indahnya dunia yang kamu diami.. Baca entri selengkapnya »





Dero-Modero gerakan penuh persahabatan-kekerabatan-kedamaian

2 08 2008

Merujuk ke sebuah blog yang [kembali] mengadakan lomba postingan [www.lagaligo.net] membuat saya begitu antusias untuk berpartisipasi di “event” tersebut, karena tema yang di angkat oleh lagaligo begitu “menakjubkan” yakni KOSTES PEDULI BUDAYA NUSANTARA... sungguh sebuah ajakan yang mulia mengingat kondisi kebudayaan tiap-tiap daerah kita yang [maaf] belum terlalu terpublish melalui media untuk di ketahui oleh masyarakan indonesia [bahkan dunia] secara universal. dan dengan adanya lomba kali ini, semoga kekayaan budaya nusantara yang kita miliki bisa di akses [dibaca/diketahui] oleh semua individu lewat media internet. dan untuk lomba postingan ini, saya mencoba mengangkat salah satu kebudayaan [budaya tari] yang berasal dari daerah saya sendiri [Kabupaten Poso "pamona" - Kabupaten Morowali "mori"] yaitu Dero/Modero.

Dero atau yang sering di sebut juga Modero merupakan sebuah tarian yang membuat rasa persahabatan, kekerabatan dan kedamaian semakin lekat. Saya pribadi sebagai individu asli dari sumber tarian tersebut sampai saat ini hanya mengerti struktur dan arti dari tarian ini yakni persahabatan-kekerabatan-kedamaian, kesimpulan itu saya tarik sendiri berdasarkan apa yang saya lihat dan dengar dari pembicaraan orang disekitar saya, karena referensi mengenai budaya tersebut masih minim bahkan sangat jarang saya temukan, tetapi saya yakin di dalam tarian tersebut ada sebuah arti yang sangat sakral bagi orang-orang di tempat asal budaya Dero/Modero. sungguh sebuah ironi bagi saya pribadi karena tidak paham lebih dalam mengenai budaya sendiri yang notabene hidup dan besar di lingkaran itu.

Apakah ini sebuah tanda bahwa “anak muda” sekarang lupa akan budayanya sendiri??… jika pertanyaan itu di ajukan kepada saya, tentunya saya akan menjawab dengan lantang “TIDAK”… banyak alasan [yang tentunya masuk akal] untuk menyanggah tuduhan seperti itu. lupa dengan budaya sendiri tidak bisa di ukur dari sisi seperti itu, asalkan kita sebagai asli daerah bisa mengerti setidaknya arti dari sebuah budaya walaupun definisinya tidak harus sedetail seperti dimana budaya tersebut muncul pertama kalinya, dan yang terpenting kita bisa menerjamahkan budaya tersebut berdasarkan pola kita dan sesuai dengan makna sesungguhnya yang terkandung didalamnya.

Count:

Dero/Modero adalah tarian dengan formasi melingkar yang diikuti ratusan orang, dikenal masyarakat Poso-Morowali, Sulawesi Tengah [Sulteng], sebagai tarian perdamaian. peserta tari tersebut juga saling berpegangan tangan yang menandakan rasa persatuan dan persahabatan, meski sebelumnya tidak saling mengenal. Dero biasanya dilakukan pada malam hari, seusai warga menghadiri acara pesta pernikahan, pesta panen [Padungku] atau acara lainnya.
Bahkan hingga menjelang matahari terbit, Dero masih tetap berlanjut. tarian itu biasanya diiringi musik organ tunggal [sekarang, - dulunya memakai gong kecil] dengan dua penyanyi. Penyanyinya umumnya juga melantunkan lagu berbahasa daerah atau lagu populer lainnya dengan iringan irama agak cepat. tempo lagu yang agak cepat membuat penari Dero lebih bersemangat, bergoyang sambil berputar searah jarum jam atau sebaliknya.
Dalam situasi normal, dero dipentaskan malam hari, usai acara pesta pernikahan, pesta panen [Padungku] atau acara lainnya. Sering pula dero digelar sampai pagi dengan penuh suka cita. lupa waktu tak masalah karena begitulah sebagian cara masyarakat Poso-Morowali menikmati perdamaian. Dero menjadi arena persahabatan sekaligus perdamaian. lihat saja, dalam Dero, setiap orang bebas masuk ke dalam lingkaran. dan langsung menggandeng tangan orang di sebelahnya. tidak ada yang pernah menolak penggandengan tangan itu karena dero memang ajang untuk bergembira dan mencari sahabat tanpa peduli apa agamanya.
Tari Dero ini juga disebut dengan Tari Pontanu, jenis tari pergaulan di mana para penonton diajak ikut menari dengan saling bergandengan tangan membentuk lingkaran. tarian asal Poso dan Morowali, Sulawesi Tengah itu selalu dilakukan pada setiap acara-acara pernikahan, pesta panen [Padungku] dan syukuran lainnya di Poso-Morowali. tari Dero itu masih tetap dipertahankan di beberapa kampung di Poso-Morowali hingga kini.

Dari beberapa potongan referensi di atas kita sudah bisa melihat sebuah arti sesungguhnya dari budaya Tarian Dero/Modero.. sungguh sebuah budaya [bisa dibaca: kebiasaan] yang agung dimana dengan sebuah tarian bisa mempererat tali persahabatan, kekerabatan dan kedamaian walaupun di dalam lingkaran tarian tersebut berbagai ragam dan ras individu yang bergerak membuat sebuah rotasi yang berputar dengan indah. lingkaran yang terbentuk bersamaan dengan tangan bergandeng erat menandakan sebuah kekokohan yang tak ingin lepas dari putaran roda kehidupan yang dijalaninya dan di iringi dengan tawa serta nyanyian sebagai syair dalam mengiringi setiap masalah. dari sebuah tarian ini patutlah kita mengambil sebuah arti yang sangat istimewa untuk kita aplikasikan di dalam kehidupan yang notabene disekitar kita banyak individu yang berlainan sifat dan karakternya untuk mencapai sebuah nilai kehidupan yang hakiki.
Kadang kita lupa bahwa kita juga seharusnya berkaca lewat sebuah budaya, karena di dalam sana banyak norma yang sangat pantas untuk kita tiru dengan nilai-nilainya yang sakral. Baca entri selengkapnya »








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.