[Cerpen] Batas Hidup [bagian 1]

29 07 2008

Kemudaan bukanlah suatu masa didalam jiwa, tetapi orang menjadi tua karena meninggalkan idealismenya. Kalimat dari salah satu pesohor dunia inilah yang selalu menginspirasiku untuk selalu berpikir secara realistis. Banyak permasalahan yang selalu hadir selangkah di depan dalam mengiringi hentakan kaki, dan aku selalu merasa goyah jika melewatinya seiring dengan pola pikir yang berkecamuk saat itu. Tapi jika mengingat kembali kalimat diatas, ada kekuatan dan semangat untuk selalu memperbaiki setiap kesalahan tersebut. Beberapa kesalahan bisa aku lalui dengan baik tetapi tidak sedikit justru membuat aku semakin terpuruk di lingkungan dan situasi yang sama sekali mengikat diriku dan seakan tidak akan melepaskannya bahkan semakin kuat dan dalam rasa tersebut sampai kadang aku berusaha untuk pasrah menerimanya.
Bebeapa suara di kiri dan kanan yang samar-samar aku dengar untuk selalu mengajakku bangkit dan tetap survive di dalam kehitaman yang melingkupi aura jiwaku yang semakit pekat, namu suara tersebut makin menghilang seiring dengan makin tebalnya kepekatan dalam membungkus kehidupanku. Tangan-tangan yang kokoh juga hadir untuk menarik jiwaku namun seakan aku tidak mau menjemput uluran tangan tersebut karena aku merasa enjoy di kehidupanku ini. Di satu saat suara nyaring dan tangan kokoh itu menggema di sudut telinga dan menampar tubuhkuh sampai jatuh demi mengajak dan mengangkat aku dari kepekatan yang semakin menebal. Aku sadar dan mencoba untuk maju dan beriringan dengan suara dan tangan tersebut, tetapi rasa itu semakin kuat menarikku bersamaan dengan kenikmatan yang selalu bersinar dengan tajam kearahku dan mengajakku untuk tetap menari di lingkungan yang saat itu membuat diriku merasa lepas dari segala beban.

Waktu berputar mengintari kawah hitam di sekeliling tubuhku dan membaluri sekujur jiwaku sehingga ada suatu kejolak yang semakin tinggi melompat dan menghempas tubuhku di atas kekelaman beralas kenikmatan. Sungguh moment yang spektakuler aku rasakan, dengan hadirnya hembusan dosa yang masuk melalui pori-pori kenistaan…Uncredible..Unbelieveable.. kata itu yang selalu keluar dari mulutku jika aku bermain di atas kondisi tersebut. Jari-jariku terasa keram, namun selalu saja aku memainkannya diatas kabut yang menebal dan hitam, karena disana ada sebuah kondisi yang tidak bisa aku hindari dan justru membuat aku merasa survive, tetapi menurut suara dan tangan kokoh itu, kondisi tersebut justru menghantam jiwaku dan menyeret sisa hidupku menjauh dari lingkungan dimana seharusnya anak manusia berada dan menikmati hidupnya dengan suka cita bersama individu lain dan saling berinteraksi selayaknya ciptaan Tuhan yang utuh.

-To Be Continued-


Aksi

Information

5 responses

1 08 2008
GNET

wow, hampir saja saya salah terka dari ulasan cerita diatas heheheh apa kabar bro?

2 08 2008
fritzinfo

heheh.. baik bro..🙂

2 08 2008
Gelandangan

wahhh makin mantab aja nih tulisannya😀

lombanya masih bisa ikutan kok

2 08 2008
fritzinfo

oke.. bentar lagi publish nih…😀

2 08 2008
[Cerpen] Batas Hidup-2 « Hanya Sebuah Coretan

[…] Terakhir fritzinfo di [Cerpen] Batas Hidup Gelandangan di [Cerpen] Batas Hidup fritz di Ruang Tamu Gnet di Ruang Tamu fritzinfo […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: