Cuman Pengen Posting Ini Ajah…!!!

30 08 2008

Lirik yang mewakili seluruh perasaan saya beberapa waktu lalu, hingga saya benar-benar merasa berada di titik paling bawah dari sebuah kehidupan.. semuanya sudah berlalu, saat ini saya hanya fokus pada penyelesaian sebuah trauma entah dengan mekanisme koping apa yang akan saya gunakan.. entahlah..!!

Egokah Aku – Wali Band

Ku tak pernah merasa
Gundah di hatiku, ketika denganmu
Saat kau, kau belai rambutku
Kau temani aku, kau basuh lukaku

Kini semua berlalu
Karena engkau tak memilihku

Salahkah aku mencintaimu
Walau ku tahu ku tak di hatimu
Egokah aku memilikimu
Walau ku tahu kau tak memilihku
Ku harap Tuhan cabut nyawamu
Agar tak ada yang milikimu

Sadarkah kini ku tak rela
Imanku telah sirna
Mimpiku tak nyata

Kini semua berlalu
Karena engkau tak memilihku

Salahkah aku mencintaimu
Walau ku tahu ku tak di hatimu
Egokah aku memilikimu
Walau ku tahu kau tak memilihku
Ku harap Tuhan cabut nyawamu
Agar tak ada yang milikimu
Ku harap Tuhan cabut nyawamu
Agar tak ada yang milikimu

Jangan Pernah Berubah – ST 12 Band

Biarkan waktu teruslah berputar
Mencintai kamu penuh rasa sabar
Meski sakit hati ini kau tinggalkan
Ku ikhlas ‘tuk bertahan

Cintaku padamu begitu besar
Namun kau tak pernah bisa merasakan
Malah kini kau ucapkan selamat tinggal
Membuat keresahan

Reff:
Meninggalkanku tanpa perasaan
Hingga ku jatuhkan airmata
Kekecewaan ku sungguh tak berarah
Biarkan ku harus bertahan

Jangan pernah kau coba untuk berubah
Tak relakan yang indah hilanglah sudah
Jangan pernah kau coba untuk berubah
Tak relakan yang indah hilanglah sudah

Back to Reff

Jangan pernah kau coba untuk berubah
Ku relakan yang indah dalam hatinya

Iklan




Sejarah Kerajaan Mori

10 08 2008

Di dedikasikan buat “mia mori” dimanapun berada dan sebagai arsip budaya untuk di ketahui oleh masyarakat luas.

Akhirnya kesampaian juga menulis tentang review kerajaan mori [kerajaan asli daerah saya “Morowali Regency” – Sulawesi Tengah]. setelah beberapa waktu lalu saya sempat membaca sebuah pesan promo tentang peluncuran buku yang membahas tentang kerajaan mori di sebuah milis, dan sudah membacanya sendiri, saya sangat takjub dengan kegigihan tim penulis yang bersusah payah mencari data dan menyusunnya sedemikian rapih mengenai sejarah tersebut, sungguh suatu upaya dan kerja keras yang patut di acungkan jempol.
Di postingan ini saya tidak akan menulis panjang lebar tentang sejarah tersebut, karena pihak pengelolahnya sudah menyediakan website tentang kerajaan mori [link berada di akhir postingan].
Sebelum kalian menuju ke lokasi kejadian [halah…], sedikit saya memberikan review tentang kerajaan mori…

Kerajaan Mori adalah salah satu kerajaan dari sejumlah kerajaan yang berkembang di Indonesia. Sama seperti kerajaan- kerajaan lain di Indonesia, kerajaan ini juga dibentuk dan diberikan pengabsahannya berdasarkan kisah-kisah lokal dari memori kolektif masyarakat yang bercorak legenda. Pembentukan kerajaan ini berawal ketika tampilnya seorang tokoh yang diberikan predikat Mokole Moiki. Ia menikah dengan seorang mokole dari wilayah sekitar Danau Matano, yang disebut Mokole Mohainga. Pernikahan itu memberi pengaruh yang luas terhadap kelompok kaum yang menghuni wilayah sekitarnya. Pemimpin kelompok kaum (para mia mota’u) datang memberi hormat dan memohon menjadi pemimpin mereka, dan bahkan mengajaknya pindah bermukim di negeri mereka dan menjadi yang dipertuan. Sehubungan dengan itu Mokole Moiki dan permaisurinya pindah dan bermukim di Wawontuko dan membangun satu pemerintahan kerajaan yang membawahi sejumlah komunitas kaum yang bermukim di sekitarnya. Mokole Moiki menjadi Raja I (Mokole I) dari persekutuan kaum yang membentuk satu pemerintahan itu yang disebut Kerajaan Mori. Baca entri selengkapnya »





[Cerpen] Batas Hidup [bagian 3 – Tamat]

9 08 2008

Sambungan dari cerpen sebelumnya...

Aku berusaha bangun dan melihat sekelilingku, semuanya kabur, tidak ada setitik cahayapun yang bisa aku lihat, gelap, aku hanya bisa kembali menutup mataku dan berharap saat aku membukanya semuanya menjadi seperti semula. Di saat aku kebingungan dengan kondisi itu, ada sebuah belaian lembut mengelus kepalaku, bersamaan dengan kecupan hangat di dahiku, nyaman, itu yang aku rasakan. Aku begitu meresapi belaian dan kecupan itu. Aku mencoba membuka mata, ada setitik cahaya kecil, tapi masih samara-samar, namun aku tetap berusaha untuk menangkap titip di hadapanku, aku terus berusaha dan berusaha melihatnya, dan akhirnya aku mendapati sebuah wajah yang menatap ke arahku, aku mencoba mengedipkan mata agar lebih jelas untuk melihat apa yang ada dihadapanku. Sebuah wajah yang begitu lembut dan dihiasi alur-laur kulit yang mulai mengeriput, ada tetesan air mata yang mengalir disana, dengan wajah dan tetesan airmata, aku lihat bibir itu tersenyum..ahhh…aku mengenal wajah itu, yah.. wajah itu tidak asing, aku mengenalnya…MAMA…iyah itu adalah mamaku.. tapi kenapa menangis?? Aku mencoba melihat sekelilingku, disana kudapati papa, saudaraku dan beberapa orang yang aku kenal, raut wajah mereka begitu sedih namun berusaha tetap tersenyum..hambar…

“Ma, ada apa? kenapa menangis? Kenapa semuanya ada disini?” masih dalam keadaan bingung aku bertanya.
“Sudah sayang, semuanya sudah berakhir, kamu berhasil melaluinya, kamu begitu kuat dan tegar…” mamaku berusaha menjelaskan dengan diikuti isakan yang terdengar bergetar dari bibirnya.

Nyeri, kini aku benar-benar merasakan nyeri yang hebat disekujur tubuhku. Aku kembali melihat disekelilingku, ditanganku terpasang selang infus, dan juga selang O2 ikut bertengger di hidungku. Di samping tampak alat-alat yang tidak aku kenal dan tampaknya alat-alat tersebut ikut terpasang ditubuhku.
Ahh.. aku berada di ICU..yah..aku berada disini akibat kecelakaan yang aku alami. dari penjelasan mama, aku mengalami kecelakaan mobil seminggu yang lalu saat aku kabur dari rumah dan aku dibawah oleh beberapa warga di sekitar lokasi kecelakaan itu, dengan bersimbah darah.
Aku ingat, beberapa minggu sebelum kecelakaan yang aku alami, aku sempat bertengkar dengan mama, dan aku kabur dari rumah, setelah itu aku tidak ingat lagi, yang ternyata berakhir di ruang ICU ini. Baca entri selengkapnya »





[Cerpen] Batas Hidup [bagian 2]

2 08 2008

Sambungan dari cerpen sebelumnya...

Oh, iyah.. aku sadar bahwa aku merupakan mahluk Tuhan paling seksi, walaupun anggapan itu merupakan bagian yang kontradiksi dengan kondisiku saat ini, tetapi di saat aku mencermati kondisi tersebut selalu saja ada pekikan yang keras dan menyatakan bahwa iyahh.. benar.. kamu adalah yang terseksi, terbaik dari segala senyawa yang pernah ada, jangan dengarkan apa kata mereka tentang dirimu dengan memutarbalikan dan mempermainkan kondisi-kondisi yang kamu hadapi.. percayalah, dari sini kami melihatmu bahwa kamulah yang terseksi dan terbaik, tutup telingamu jika mereka mengucapkan kalimat dan ajakan untuk membuka pintu dan berjalan ke arah meraka dan jika mereka menarik tanganmu, tarik kembali dengan keras dan kami akan membantumu. Lihatlah ke arah kami, disini banyak kenikmatan yang tidak pernah akan kamu dapatkan di tempat mereka jika kamu membuka pintu yang disediakan oleh mereka. Mereka hanya berbicara dengan bahasa yang kamu tidak mengerti demi mengajakmu masuk di lingkungan mereka, tetapi bersama kami, kamu akan selalu mendengarkan ajakan yang membuat tubuhmu bergejolak dan kamu akan merasakan indahnya dunia yang kamu diami.. Baca entri selengkapnya »





Dero-Modero gerakan penuh persahabatan-kekerabatan-kedamaian

2 08 2008

Merujuk ke sebuah blog yang [kembali] mengadakan lomba postingan [www.lagaligo.net] membuat saya begitu antusias untuk berpartisipasi di “event” tersebut, karena tema yang di angkat oleh lagaligo begitu “menakjubkan” yakni KOSTES PEDULI BUDAYA NUSANTARA... sungguh sebuah ajakan yang mulia mengingat kondisi kebudayaan tiap-tiap daerah kita yang [maaf] belum terlalu terpublish melalui media untuk di ketahui oleh masyarakan indonesia [bahkan dunia] secara universal. dan dengan adanya lomba kali ini, semoga kekayaan budaya nusantara yang kita miliki bisa di akses [dibaca/diketahui] oleh semua individu lewat media internet. dan untuk lomba postingan ini, saya mencoba mengangkat salah satu kebudayaan [budaya tari] yang berasal dari daerah saya sendiri [Kabupaten Poso “pamona” – Kabupaten Morowali “mori”] yaitu Dero/Modero.

Dero atau yang sering di sebut juga Modero merupakan sebuah tarian yang membuat rasa persahabatan, kekerabatan dan kedamaian semakin lekat. Saya pribadi sebagai individu asli dari sumber tarian tersebut sampai saat ini hanya mengerti struktur dan arti dari tarian ini yakni persahabatan-kekerabatan-kedamaian, kesimpulan itu saya tarik sendiri berdasarkan apa yang saya lihat dan dengar dari pembicaraan orang disekitar saya, karena referensi mengenai budaya tersebut masih minim bahkan sangat jarang saya temukan, tetapi saya yakin di dalam tarian tersebut ada sebuah arti yang sangat sakral bagi orang-orang di tempat asal budaya Dero/Modero. sungguh sebuah ironi bagi saya pribadi karena tidak paham lebih dalam mengenai budaya sendiri yang notabene hidup dan besar di lingkaran itu.

Apakah ini sebuah tanda bahwa “anak muda” sekarang lupa akan budayanya sendiri??… jika pertanyaan itu di ajukan kepada saya, tentunya saya akan menjawab dengan lantang “TIDAK”… banyak alasan [yang tentunya masuk akal] untuk menyanggah tuduhan seperti itu. lupa dengan budaya sendiri tidak bisa di ukur dari sisi seperti itu, asalkan kita sebagai asli daerah bisa mengerti setidaknya arti dari sebuah budaya walaupun definisinya tidak harus sedetail seperti dimana budaya tersebut muncul pertama kalinya, dan yang terpenting kita bisa menerjamahkan budaya tersebut berdasarkan pola kita dan sesuai dengan makna sesungguhnya yang terkandung didalamnya.

Count:

Dero/Modero adalah tarian dengan formasi melingkar yang diikuti ratusan orang, dikenal masyarakat Poso-Morowali, Sulawesi Tengah [Sulteng], sebagai tarian perdamaian. peserta tari tersebut juga saling berpegangan tangan yang menandakan rasa persatuan dan persahabatan, meski sebelumnya tidak saling mengenal. Dero biasanya dilakukan pada malam hari, seusai warga menghadiri acara pesta pernikahan, pesta panen [Padungku] atau acara lainnya.
Bahkan hingga menjelang matahari terbit, Dero masih tetap berlanjut. tarian itu biasanya diiringi musik organ tunggal [sekarang, – dulunya memakai gong kecil] dengan dua penyanyi. Penyanyinya umumnya juga melantunkan lagu berbahasa daerah atau lagu populer lainnya dengan iringan irama agak cepat. tempo lagu yang agak cepat membuat penari Dero lebih bersemangat, bergoyang sambil berputar searah jarum jam atau sebaliknya.
Dalam situasi normal, dero dipentaskan malam hari, usai acara pesta pernikahan, pesta panen [Padungku] atau acara lainnya. Sering pula dero digelar sampai pagi dengan penuh suka cita. lupa waktu tak masalah karena begitulah sebagian cara masyarakat Poso-Morowali menikmati perdamaian. Dero menjadi arena persahabatan sekaligus perdamaian. lihat saja, dalam Dero, setiap orang bebas masuk ke dalam lingkaran. dan langsung menggandeng tangan orang di sebelahnya. tidak ada yang pernah menolak penggandengan tangan itu karena dero memang ajang untuk bergembira dan mencari sahabat tanpa peduli apa agamanya.
Tari Dero ini juga disebut dengan Tari Pontanu, jenis tari pergaulan di mana para penonton diajak ikut menari dengan saling bergandengan tangan membentuk lingkaran. tarian asal Poso dan Morowali, Sulawesi Tengah itu selalu dilakukan pada setiap acara-acara pernikahan, pesta panen [Padungku] dan syukuran lainnya di Poso-Morowali. tari Dero itu masih tetap dipertahankan di beberapa kampung di Poso-Morowali hingga kini.

Dari beberapa potongan referensi di atas kita sudah bisa melihat sebuah arti sesungguhnya dari budaya Tarian Dero/Modero.. sungguh sebuah budaya [bisa dibaca: kebiasaan] yang agung dimana dengan sebuah tarian bisa mempererat tali persahabatan, kekerabatan dan kedamaian walaupun di dalam lingkaran tarian tersebut berbagai ragam dan ras individu yang bergerak membuat sebuah rotasi yang berputar dengan indah. lingkaran yang terbentuk bersamaan dengan tangan bergandeng erat menandakan sebuah kekokohan yang tak ingin lepas dari putaran roda kehidupan yang dijalaninya dan di iringi dengan tawa serta nyanyian sebagai syair dalam mengiringi setiap masalah. dari sebuah tarian ini patutlah kita mengambil sebuah arti yang sangat istimewa untuk kita aplikasikan di dalam kehidupan yang notabene disekitar kita banyak individu yang berlainan sifat dan karakternya untuk mencapai sebuah nilai kehidupan yang hakiki.
Kadang kita lupa bahwa kita juga seharusnya berkaca lewat sebuah budaya, karena di dalam sana banyak norma yang sangat pantas untuk kita tiru dengan nilai-nilainya yang sakral. Baca entri selengkapnya »