[Cerpen] Batas Hidup [bagian 2]

2 08 2008

Sambungan dari cerpen sebelumnya...

Oh, iyah.. aku sadar bahwa aku merupakan mahluk Tuhan paling seksi, walaupun anggapan itu merupakan bagian yang kontradiksi dengan kondisiku saat ini, tetapi di saat aku mencermati kondisi tersebut selalu saja ada pekikan yang keras dan menyatakan bahwa iyahh.. benar.. kamu adalah yang terseksi, terbaik dari segala senyawa yang pernah ada, jangan dengarkan apa kata mereka tentang dirimu dengan memutarbalikan dan mempermainkan kondisi-kondisi yang kamu hadapi.. percayalah, dari sini kami melihatmu bahwa kamulah yang terseksi dan terbaik, tutup telingamu jika mereka mengucapkan kalimat dan ajakan untuk membuka pintu dan berjalan ke arah meraka dan jika mereka menarik tanganmu, tarik kembali dengan keras dan kami akan membantumu. Lihatlah ke arah kami, disini banyak kenikmatan yang tidak pernah akan kamu dapatkan di tempat mereka jika kamu membuka pintu yang disediakan oleh mereka. Mereka hanya berbicara dengan bahasa yang kamu tidak mengerti demi mengajakmu masuk di lingkungan mereka, tetapi bersama kami, kamu akan selalu mendengarkan ajakan yang membuat tubuhmu bergejolak dan kamu akan merasakan indahnya dunia yang kamu diami..

“Sayang, bangun..sadarlah sayang..”. suara yang terdengar kecil dan serak mengajaku untuk bangkit. Aku berusaha berdiri serta mengayuh kaki menapaki jalan yang curam dan berbatu demi mencari sumber suara tersebut. Di telingaku suara itu begitu merdu dan dan seakan mengiris bagian hatiku yang gelap. Aku berbalik ke belakang, disana kau melihat kenikmatan yang tadi melingkupiku, dan disana aku juga melihat mereka berpesta menikmati kehidupan yang pernah aku jalani. Disaat hatiku menciut dan kendur untuk maju mencari suara tadi, aku malah beniat berbalik arah menuju tempat mereka yang sedang berpesta, namun kembali aku dengarkan suara yang sangat merdu namun kini diiringi dengan isak tangis yang membuat suara tersebut semakin terdengar serak. “Sayang.. bertahanlah.. kami disini menunggumu dengan kasih sayang..” belum selasai suara yang kudengarkan tadi, tiba-tiba ada sebuah benda yang akupun tidak tahu apa dan darimana asalnya menghantam tubuhku begitu keras. Aku merasakan nyeri disekujur tubuhnku, tulang-tulangku terasa remuk dan berserakah, namun akau masih bisa berdiri walaupun kaki ini serasa tidak bisa menopang beban tubuhku. Aku berusaha untuk meniti jalanan itu dengan kondisi tubuh yang nyeri dan kotor, baru saja aku melangkahkan kakiku yang ke sekian, benda yang tadi menghantam tubuhku kini kembali menghujani tubuhku berkali-kali seakan tidak akan memberikan kesempatan untuk berdiri dan bernafas sedikitpun, aku terus bertahan seiring benda itu terus menghantam dan meremukan semua bagian tubuhku, pandanganku kabur. Dalam kondisi seperti itu aku mendengarkan lagi suara yang tadi memanggilku sayang, kini suara itu terdengar keras dan seolah memberikanku kekuatan extra untuk bangun dari hujaman benda yang sedang menghantaku. Berkali-kali suara itu menggema berisi kalimat-kalimat yang terdengar begitu indah dan menyejukan serta mengajakku untuk bangkit…terus.. dan terus…kudengar suara itu, dan disaat suara itu semakin jelas, benda yang menghantamku tadi tiba-tiba menghilang, meninggalkan tubuhku yang remuk.


-To Be Continued-


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: